Image result for fifty shades darker

Director         : James Foley
Writers           : Niall Leonard (screenplay), E.L. James (based on the novel by)
Stars               : Dakota Johnson, Jamie Dornan, Eric Johnson, etc
Rate IMDB    : 4,9/10
Personal Rate : 6,5/10

Well, ini adalah pertama kalinya gw membuat review tentang film. Review ini juga sekaligus menjadi come back gw ke dunia per-go-blog-kan yang gw tinggal lama dan sulit untuk dihampiri kembali. Horeeee…

Alasan gw memilih film Fifty Shades Darker (2017) ini untuk menjadi bahan review gw yang pertama tentu aja karena film ini masih cukup baru, release tanggal 7 Februari di Hamburg dan tanggal 10 Februari di US (Saat gw nulis sekarang ini baru aja 3 jam masuk 1 Maret :-D). Lalu yang kedua, karena film ini nggak tayang di Indonesia, hehehe.  Kenapa nggak tayang? Kali aja ada yang belum tau :-P, karena ini film ini sangat banyak mengandung konten seksual dan vulgar, yang nggak mungkin jadi film lagi kalau semuanya disensor.

Okay, jadi oleh karena film ini terlalu banyak mengandung konten dewasa, gw saranin kalian cukup baca review gw aja tanpa perlu nonton film nya kalau kalian belum nikah :-D

Lanjut ke film. Fifty Shades Darker (2017) ini merupakan sequel kedua dari film Fifty Shades Of Grey (2015). Singkat cerita, sequel pertama berkisah tentang pertemuan Anastasia "Ana" Steele (Dakota Johnson) si gadis polos yang masih berstatus mahasiswa semester akhir dengan Christian Grey (Jamie Dornan) si pengusaha muda kaya raya yang memiliki penyimpangan seksual. Mereka berdua saling jatuh hati dan kemudian Ana dibuat galau dengan jenis hubungan yang ditawarkan Christian. Christian menawarkan kontrak perjanjian yang berisi segala hal tentang gaya hidup Bondage & Discipline, Sadism & Masochism (BDSM). Sambil Ana berpikir untuk menandatangani kontrak itu atau tidak, hubungan mereka pun tetap berlanjut dan Ana mulai diperkenalkan dengan BSDM. Di akhir cerita, Ana – yang memimpikan hubungan romantis – pergi meninggalkan Christian karena tidak bisa mengikuti gaya hidup Christian. 

Kalau kamu belum nonton Fifty Shades Of Grey (2015) kemungkinan akan sedikit sulit memahami cerita Fifty Shades Darker (2017). Karena dalam film tidak ada potongan flashback sementara isi cerita dan kejadian-kejadian yang akan muncul sangat berkaitan dengan sequel pertamanya.

Image result for fifty shades darker movie scene

Nah lanjut ke Fifty Shades Darker (2017), gw ceritain sedikit alur ceritanya. Ana dan Christian menjadi galau dengan perpisahan yang mereka alami. Untuk pertama kali dalam hidupnya, Christian meminta seorang perempuan, yaitu Ana, untuk kembali kepadanya dan menjalani hubungan tanpa kontrak. Christian juga setuju jika Ana menyentuh tubuhnya dengan batasan area-area tertentu. Kemudian, seperti sebelum-sebeumnya, Christian merasa cemburu dengan bos di tempat kerja Ana yang baru, yaitu Jack Hyde (Eric Johnson). Dia adalah Editor di Seattle Independent Publishing (SIP) dan Ana adalah asistennya. Christian pun akhirnya membeli SIP. Dan memang benar, Jack memiliki ketertarikan pada Ana bahkan hampir saja memperkosanya. Christian yang melihat Ana sangat ketakutan atas insiden tersebut, langsung saja menelpon Direktur Utama SIP dan meminta Ana dipecat. Keesokan harinya, Ana dipercayakan untuk menggantikan Jack. Ana merasa janggal dengan pengangkatan dirinya, namun Christian mengelak bahwa ini adalah karena pengaruhnya, dia meyakinkan Ana bahwa ini adalah hasil kerja keras Ana sendiri.

Konflik lain dalam film ini datang dari masa lalu Christian. Yaitu teman ibu angkatnya, Elena Lincoln (Kim Basinger), yang menjadikan Dia sebagai submissive di masa remajanya hingga Dia pun kini memiliki gaya hidup BSDM dan bertindak sebagai dominance. Kemudian ada juga Leila Williams (Bella Heathcote), salah satu mantan submissive Christian yang sangat terobsesi dengannya dan cemburu pada Ana.

Secara keseluruhan alur cerita film ini cukup menarik. Chemistry antara Ana dan Christian juga terjalin cukup baik. Kebetulan karena gw suka dengan film drama fantasi yang nggak melow, gw cukup suka dengan film ini. Awal ceritanya memang cukup cepat, jadi kurang terasa bagaimana usaha Christian untuk meyakinkan Ana kembali. Tapi hal itu bisa dimaklumi mengingat Ana yang juga udah terlanjur jatuh cinta pada Christian. Usaha Christian meyakinkan Ana justru semakin terlihat seiring jalannya cerita. Kegalauan Ana pun sedikit demi sedikit berkurang.

Yang berbeda dari sequel pertamanya, film ini berhasil bikin gw sedikit mewek di satu adegan saat Ana dan keluarga Christian berkumpul menonton berita untuk menunggu informasi keberadaan Christian, yang dinyatakan hilang dalam kecelakaan helikopter yang diterbangkannya sendiri. Scene ini menurut gw merupakan scene paling berbeda di antara yang lainnya, meskipun ceritanya biasa dan pasti sudah bisa kita temukan di film lain serta tertebak akhirnya. Ya, karena scene ini berbeda dari scene lainnya, jadi seperti semacam a little surprise.

Ini yang agak enggak banget sih buat gw. Di akhir-akhir cerita, film ini mengingatkan gw dengan The Twilight Saga. Ada adegan Jack yang memandangi Ana dan Christian dari kejauhan dengan bahasa tubuh ingin balas dendam, seperti scene Victoria di akhir film The Twiight Saga: New Moon. Kemudian penutup cerita di mana Ana menerima lamaran Christian membuat gw berpikir cerita sequel selanjutnya ya seperti The Twilight Saga: Breaking Dawn Part 1, yaitu menikah dan honeymoon di pantai. :-D

Image result for fifty shades darker movie scene

Makna yang bisa diambil dari film ini adalah bagaimana kita berusaha menurunkan ego untuk menerima kekurangan pasangan kita dan kemudian saling melengkapi kekurangan tersebut. Ya intinya cuma itu aja. Tapi tentunya film ini dikemas dengan berbeda yaa.

Terakhir, sekali lagi gw ingetin, kalau kalian yang belum punya pasangan halal atau belum mampu mengelola emosi (hasrat) mending sabar dulu deh jangan nonton film ini :-D. Film ini cuma bisa kalian anggap romantis kalau kalian sudah punya pasangan halal :-P


Di sela-sela kesibukan ngerjain revisi dan bikin paper dari skripsi untuk e-jurnal, tiba-tiba ada semangat untuk ngeblog lagi. Kalau lagi semangat gini, harus segera direalisasikan sebelum mood jelek datang dan ide nulis pun ngilang seperti sebelum sebelum sebelumnya :D.

Kali ini yang mau gw bahas adalah rencana penanganan hate speech yang lagi hot. Mengingat saran yang gw tulis di bab 5 skripsi gw adalah: “Masyarakat harus kritis dalam memahami isi berita”, ada baiknya gw pun belajar menjadi kritis sebelum setuju atau tidak setuju dengan rencana tersebut.
Pandangan gw sendiri sebelum banyak cari info tentang isu ini, setuju. Ya, setuju karena media sosial itu area publik, jadi sebagai individu kita gak bisa seenaknya memposting atau share sesuatu. Sementara justru sekarang ini banyak yang belum aware atau justru sengaja cari sensasi dengan cara menghina atau memfitnah sesuatu secara terang-terangan di medsos.  Tapi, masalahnya, gw juga khawatir peraturan yang akan dibuat ini cuma menjadi alat bagi oknum-oknum tertentu untuk membungkam pendapat yang tidak menguntungkan pihaknya – kekhawatiran yang sama yang sepertinya dirasakan juga oleh banyak orang.

Jadi Penanganan Hate Speech Ini Sebenarnya Gimana?

Setelah cari-cari info, ternyata gw baru sadar bahwa gw kurang up-to-date. Jadi sebenarnya  penanganan hate speech ini bukan rencana yang akan dibuatkan undang-undangnya, namun edaran dari Kapolri yang tujuannya adalah untuk melaksanakan undang-undang dan peraturan terkait yang sudah ada. Dokumen lengkap Surat Edaran tersebut bisa dilihat di sini.

Singkatnya, SE ini adalah re-sosialisasi bahwa hal-hal yang berhubungan dengan hate speech dapat merusak persatuan, seperti menimbulkan tindak kekerasan dan konflik sosial. SE ini juga sebagai pengingat bahwa hate speech bukan lah hal yang baik dan ada aturan yang menaunginya, sehingga kepolisian diminta untuk lebih tegas melakukan tindakan terhadap pelaku yang melakukan hate speech.

Di dalam SE disebutkan bahwa hate speech yang dimaksud berbentuk penghinaan; pencemaran nama baik; penistaan; perbuatan tidak menyenangkan; memprovokasi; menghasut; penyebaran berita bohong. Yang semua tindakan itu memiliki tujuan atau bisa berdampak pada tindak diskriminasi, kekerasan, penghilangan nyawa, dan/atau konflik sosial. Untuk itu, personil Polri diminta lebih responsif terhadap gelaja-gejala yang timbul di masyarakat yang berpotensi menimbulkan tindak pidana ujaran kebencian (Hate Speech). Kemudian penanganannya didahulukan dengan penyelesaian secara damai, kemudian jika tidak bisa maka akan dibawa ke ranah hukum pidana.  (Lengkapnya silahkan baca sendiri ya)

Reaksi...

Reaksi atas Surat Edaran ini memang beragam, tapi batasnya jelas antara yang pro dengan yang kontra :D (you know what I mean). Salah satu yang pro adalah Wakil Presiden Jusuf Kalla yang pendapatnya dimuat kompas, alasan yang diungkapkan bersifat umum, yaitu menurutnya setiap orang tidak boleh menghina orang dan tidak boleh mengobarkan rasa kebencian. Sementara itu, salah satu yang kontra adalah Wakil Ketua Komisi III DPR, Desmond Junaidi Mahesa yang pendapatnya dimuat okezone. Menurutnya, SE ini adalah bentuk ketakutan rezim Jokowi terhadap kritikan dan hanya akan dijadikan tameng agar tidak dikritik lagi. Kedua pendapat ini menurut gw pribadi mungkin benar, tapi tepat atau tidaknya itu tergantung interpretasi kita masing-masing. :)

Menurut gw lagi, urgensi sampe dibuat SE ini juga abu-abu. Di satu sisi udah ada UU dan peraturannya, ngapain harus buat SE yang akhirnya malah bikin masyarakat bingung dan resah. Di sisi lain penanganan hate speech yang dimaksud itu selama ini sepertinya kurang jelas sementara memang banyak masyarakat yang kurang aware untuk lebih hati-hati dalam menyampaikan pendapat.

Beberapa pengamat menilai UU yang sudah ada belum sesuai dengan kebutuhan, sebab mulitafsir sehingga pelaksanaan hukumnya pun kurang maksimal dan hanya menguntungkan pihak yang lebih kuat. Memang sih, contohnya yang gak jelas itu pasal pencemaran nama baik. Kalau lihat di berita-berita, pasal ini jadi andalan tokoh-tokoh yang gak mau disentil dan punya kekuasaan. Kasus terbaru contohnya pelaporan Fadli Zon terhadap aktivis yang melaporkannya telah melakukan money politic dan kini status aktivis tersebut sudah jadi tersangka. Sebagai orang awam menurut gw ngapain banget ada laporan balik dengan tuduhan pencemaran nama baik, kalau memang tidak terbukti Fadli Zon salah berarti ya sudah lah ya masyarakat juga bisa menilai yang salah itu aktivisnya. Kecuali ada kerugian-kerugian lain yang didapat Fadli, baru lah bisa lapor balik. Dan, kasus absurd lainnya mengenai pasal pencemaran nama baik ini ada banyak di dunia artis, hehe. Gw lelah.

Mari Awasi Penanganannya

Kapolri Badrodin Haiti sampai saat ini tidak mau mencabut SE yang sudah ditekennya. Itu artinya SE tersebut berlaku. Menurut gw sih, saat ini kita punya hak untuk menuntut Kapolri men-sosialisasikan lebih lanjut mengenai Hate Speech ini. Harus dijelaskan indikator-indikator yang dapat menentukan suatu tindakan itu merupakan Hate Speech atau bukan. Karena kalau tidak jelas, lagi-lagi yang berkuasa lah yang dapat 'menggunakan' peraturan ini.

Setuju atau tidak, kalau menurut gw kita gak perlu menentang. Sebab peraturan itu tetap harus ada. Kita juga seharusnya berbaik sangka dulu terhadap sikap Polri, sebab sangat jelas hal-hal yang berhubungan dengan Hate Speech dapat menebabkan perpecahan. Namun tetap perlu diawasi agar tidak disalahgunakan. Awasinya gimana? Medsos punya power kok untuk itu. Minimal kita sebagai masyarakat punya kekuatan kolektif untuk bersuara melalui medsos. (Semoga saja kebaikan masih bisa lebih kuat di negeri ini)

Kalau kita gak salah ngapain takut. Simpelnya sih begitu.

Gak usah resah galau gulana, kalau memang selama ini kita hanya mengkritik pemerintah atau sesuatu ya gak usah takut. Karena kritik itu jelas berbeda dengan Hate Speech yang dimaksud di dalam SE. Menurut gw pribadi kritik memang gak harus membangun / gak harus disertai saran, yang namanya kritik berarti hal yang kita rasa kurang dan perlu diperbaiki dari pemerintah atau sesuatu itu. Dan jelas juga bedanya antara kritik dengan hinaan atau cacian. Entah menurut orang lain, tapi menurut gw hinaan itu jika kita melabeli sesuatu yang kita kritik dengan sesuatu yang buruk secara terang-terangan dan berlebihan. Ya, lagi-lagi seharusnya diluruskan dulu oleh Kapolri yang termasuk hinaan itu apa.

Di Indonesia bukan hal yang aneh jika ada orang yang mengumpat betapa buruknya keadaan angkutan umum. Baik dari sisi kebersihan, kelayakan kendaraan,  atau cara mengemudi si tuan kendaraan. Bukan pula hal yang unik jika ada orang yang bertingkah semena-mena ketika hendak menumpang kendaraan umum tersebut – berebutan atau sikut kanan kiri. Bahkan Anda tidak perlu heran jika sewaktu-waktu barang yang Anda bawa sudah tidak lagi menjadi milik Anda...

Hmm, maaf sekali, karena paragraf pertama tadi terlalu frontal mengungkap kebobrokan angkutan umum di Indonesia, saya tekankan berdasarkan pengalaman pribadi, khususnya di Ibu Kota dan sekitarnya.

Agar suasana lebih santai, saya harus kemukakan bahwa di dunia ini tidak ada yang terlalu buruk atau bahkan sangat sempurna (kecuali Nabi Muhammad SAW – dalam kepercayaan saya).

Di judul tulisan ini hanya Kereta, angkutan umum, yang saya cantumkan. Ya, karena hanya Kereta yang akan saya bahas. Meskipun angkutan umum lain tidak kalah membuat hidup teman-teman mengalami suka duka.

Semenjak awal Maret hingga minggu terakhir di bulan April ini, saya sangat akrab dengan Kereta, akibat pekerjaan yang harus saya lakukan di Bogor. Minggu pertama dan kedua bekerja di Bogor, dalam sehari saya dua kali naik Kereta, hingga akhirnya saya menyewa kamar kost di Bogor yang membuat intensitas saya naik kereta jadi berkurang. Ini lah yang membuat saya mengalami suka duka naik Kereta.

Saya Memilih Kereta Daripada Mini Bus
Bertanya pada teman, bertanya pada si mbah Google, maka rute yang akan mereka sarankan untuk menempuh jarak Tangerang - Bogor adalah melalui jalan Serpong dan Parung. Kata si mbah sih, jaraknya hampir mencapai 69 KM (Tepatnya dari Sepatan Residence I – Jalan Merdeka, Bogor). But, you know what? Jalan raya di rute tersebut cukup tidak terawat di beberapa titik, alias banyak jalan rusak dan beberapa mobil container cukup mudah dijumpai di sana. Alhasil, debu pun cukup akan menyiksa di sepanjang perjalanan.Dan jika Anda sering naik Mini Bus Tangerang-Parung-Bogor itu, Anda pasti pernah merasakan bagaimana sumpeknya udara di dalam Mini Bus saat penumpang penuh. Adrenalin Anda pun pasti pernah teruji karena supir Mini Bus yang Anda tumpangi melajukan kendaraannya dengan sangat cepat walaupun jalanan rusak atau saat berusaha menyalip container. Fiuh..

Sebenarnya, kereta pun bukan pilihan terbaik. Saat ini, untuk menuju stasiun Bogor dari stasiun Tangerang, Anda harus transit Duri. Beruntung lah ketika transit, kereta yang menuju stasiun Bogor cepat Anda dapatkan, namun terima nasib lah ketika Kereta tersebut harus Anda tunggu dalam setengah sampai satu jam bahkan lebih. Atau Anda juga bisa naik Kereta tujuan apapun, lalu turun di stasiun Manggarai dan berharap Kereta tujuan Bogor yang berangkat dari stasiun Kota lebih cepat menghampiri Anda. :-P

Suka Citanya Naik Kereta
Saya bingung sebenarnya apa yang harus saya ceritakan di bagian ini. Padahal sangat lancar jaya saya mengungkapkan dukanya naik Kereta. :D Tapi, okay.. Sebenarnya naik Kereta itu menyenangkan, walaupun banyak tapinya. Karena idealnya, untuk menuju tempat yang cukup jauh, kita dapat sampai dalam waktu yang relatif lebih cepat dan kita tidak perlu menghadapi kemacetan di jalan raya atau membayar sangat mahal jika menggunakan pesawat. Nah.. jika Anda menggunakan kereta ekonomi, maka Anda tidak perlu takut kelaparan dalam perjalanan, karena ada banyak penjual makanan mondar-mandir di kereta melewati & menawarkan Anda dagangannya. Bahkan, Anda bisa shopping kebutuhan lain di kereta, hehehehe..

Dari sudut positif lain, Anda akan menjumpai berbagai macam orang dengan segala karakternya. Bisa jadi dia adalah seorang pedagang minuman paruh baya yang sangat unik menyebutkan isi dagangannya, pedagang buah muda yang suka melepas kotak dagangan beroda-nya setelah ia dorong cukup kuat lalu membiarkannya berhenti sendiri, bermacam-macam penadah amal dengan segala kondisi dan caranya menarik perhatian, atau bahkan sales asuransi yang mengajak Anda bergabung, dan seorang cowok designer baju pesta yang menjadi perhatian para penumpang sekitar namun Anda malah jadi mengobrol dengannya karena suatu hal terjadi di kereta. Ya, jika Anda orang yang senang bergaul, senang bertemu orang baru, seorang sosialis, seorang penulis, dan lain-lainnya, mungkin Anda akan menyukai kereta, khususnya kereta ekonomi. Hmm..

Inilah Dukanya
Beberapa pengalaman buruk mewarnai gelap perjalanan saya naik kereta. Hal ini menurut saya, merupakan konsekuensi dari masih kurangnya sistem kemanan di dalam kereta, khususnya kereta ekonomi, juga merupakan akibat masih kurangnya nilai-nilai moralitas atau pendidikan di beberapa kalangan di Indonesia.

Anda pernah tahu berita mengenai orang iseng yang melempar batu ke kereta? Saya baru saja merasakannya sendiri, tepatnya jumat malam tanggal 20 April 2012 lalu, ketika saya hendak pulang ke Tangerang.

Sebenarnya ini bukan yang pertama bagi saya, tapi malam itu ada lemparan terhebat. Ketika kereta baru berangkat dari stasiun Cilebut, duar..., ada sesuatu yang mengenai badan kereta, seketika saya dan penumpang lain pun saling memandang, arti bahasa non verbal ini adalah kami saling bertanya-tanya, apa itu?

Karena saya pribadi tahu bahwa itu hanya bunyi lemparan batu, saya pun tidak panik. Tapi, ddduuaaaaaarrrrrrrrr............., suara itu kembali terdengar lagi, begitu dekat, seperti bom lho, dan seketika itu saya dan penumpang lain sangat panik. Ya, sebuah batu kali seukuran kepalan tangan saya semerta-merta masuk ke dalam gerbong kereta, tepatnya melalui kaca jendela sebelah tempat saya duduk. Saya langsung mengucap istighfar lalu hamdalah karena tidak ada yang terluka akibat insiden mengesalkan itu, karena batu masuk tepat di jendela yang tidak ada orang di depannya, hanya saya dan penumpang lain yang cukup dekat dan terkena sedikit pecahan kaca. Alhamdulillah.

Itu kejadian ekstrim kedua yang saya rasakan di kereta. Seketika penumpang lain segera menurunkan penutup jendela (bahasa kerennya gordyn kali ya), berharap itu dapat meminimalisir akibat dari pelemparan batu yang dilakukan oleh orang iseng tersebut. Karena, Anda pasti dapat membayangkan, betapa kuatnya lemparan batu itu hingga dapat menembus kaca kereta yang dilapisi plastik gelap dan sedang berjalan cepat tersebut. Mungkin jika tidak ada lapisan plastik, satu potong kaca itu sudah pecah berantakan, karena saya lihat kaca itu sudah retak-retak kecil di seluruh bagian.

Kejadian ekstrim sebelumnya adalah penjambretan. Yang membuat saya shock adalah saya berada di antara penjambret dan korbannya. Ya Alhamdulillah saya tidak apa-apa. Waktu itu – saya lupa waktu tepatnya – saya duduk di bagian bangku paling pinggir dekat pintu, kereta ekonomi , berharap tidak kepanasan di dalam kereta tidak ber-AC atau kipas angin itu. Waktu itu saya sedang dalam perjalanan ke Bogor, dan ketika baru berangkat dari stasiun Depok Baru, seketika seorang laki-laki yang baru naik dan berdiri di pintu kereta sebelah kanan saya menjambret kalung penumpang yang berada di sebelah kiri saya, kemudian dia loncat turun dan kereta pun berlalu.

Saya bisa apa? Saya hanya kaget dan teriak “copet” dengan suara yang sangat kecil karena melihat penjambret itu sudah turun dari kereta, ya saya langsung sadar tidak ada yang dapat dilakukan lagi selain ikhlas, khususnya ikhlas bagi si korban.

Itu lah kesempatan bagi si penjambret, orang-orang tidak akan menghakiminya karena kereta tidak mungkin berhenti. Dan ini adalah pelajaran bagi kita semua, jangan lah menampakkan perhiasan di tempat-tempat yang tidak tepat. Untungnya, kalung tersebut ternyata bukan emas :D namun si korban bilang pada saya kalung itu hadiah dari teman, jadi tetap sangat sayang sekali. Tapi saya jadi agak gemas dengar cerita si korban, katanya sebelumnya juga dia sudah pernah dijambret di kereta, tapi kenapa tidak belajar dari pengalaman. Ya, kemudian saya hanya dapat mengingatkannya dan berdo’a agar saya tidak mengalami hal serupa.

Ya, itu lah dua cerita duka ekstrim saya naik kereta, ada banyak cerita duka lain sih, tapi ini sudah sangat panjang sekali, hehehe. Semoga dapat berguna bagi teman-teman yang akan naik kereta agar lebih waspada. Dan tulisan saya selanjutnya Insya Allah akan membahas cara berhati-hati naik kereta. Keep reading ya teman.. Salam semangat slalu... :)

Jika ada pertanyaan, kamu lebih sering baca berita dimana? Secara umum, pasti banyak yang jawab, “Di internet lah, hari gini!”

Okay, di jaman yang semakin maju ini banyak orang menjadikan media online sebagai sumber berita utamanya. Fenomena ini terjadi bukan hanya pada golongan muda yang notabene-nya kurang suka membaca berita, namun juga pada para pelanggan media massa konvensional – media yang telah lebih dulu berjaya. Alasannya jelas, semakin mudahnya mengakses media online melalui apa saja, kapan saja,  dan dimana saja.
Namun banyak hal yang perlu kita sadari, kemudahan yang didapatkan dalam mengakses berita di media online tidak hanya memberikan segudang manfaat, tapi juga beberapa hal negatif yang mesti kita waspadai. Nah, karena itu lah guys kita harus menjadi khalayak yang cerdas, tidak hanya sekedar up-to-date

Teman-teman mungkin bingung jika saya hanya menyuruh, “Jadi pembaca berita itu harus cerdas ya!” Tapi tidak dijelaskan cerdasnya bagaimana. Yang seperti itu sih kalau kata customer saya, “ambigu!” Atau umumnya dibilang, “Nggak jelas!” hehehe

Well, saya perlu menjelaskan sesuatu dulu agar teman-teman lebih paham. Sesuatu yang saya maksud ini adalah hal-hal mengenai media online, artikel berita, dan hubungan keduanya. Ada apakah? Hal-hal tersebut adalah salah satu faktor yang dapat kepribadian kita. Dari informasi/berita kita mengetahui berbagai nilai, berpresepsi terhadap sesuatu, bahkan mengetahui seluruh isi dunia ini. Jadi, sebagai pribadi yang kuat, kita harus cerdas untuk mengadopsi nilai-nilai yang mereka berikan dan sikap yang mereka arahkan. Tentu saja nilai-nilai tersebut adalah nilai yang sesuai keyakinan kita dan kepribadian bangsa kita, guys.

Media Online Sangat Cepat Mempublish Artikel Berita, Tapi Akurat Kah?
Kecepatan dalam menyebarkan informasi adalah salah satu alasan yang membuat media online menjadi primadona. Contohnya ketika beberapa daerah di Sumatera mengalami gempa, dalam hitungan menit media online telah memuat berita tersebut. Bukan hanya orang-orang di Indonesia, namun seluruh dunia seketika mengetahui bahwa Sumatera dilanda gempa.  Kemudian do’a dan bantuan pun segera dikerahkan. 

Kalau kita cermati, sebenarnya radio dan TV pun memiliki kemampuan menyiarkan berita dengan cepat, namun media online tetap lebih unggul karena arus informasinya tidak harus terpotong oleh iklan atau program acara lain. Sehingga perkembangan berita tersebut dapat terus-menerus dilaporkan. Ditambah lagi adanya fasilitas tanggapan yang membuat pembaca berita satu sama lain dapat saling berkomunikasi.

Ya, memang benar artikel berita sangat cepat dibuat kemudian dipublish. Namun sebagai orang yang melek teknologi dan informasi, banyak hal yang perlu kita kritisi. Dalam hal ini, kita perlu mengetahui, apakah berita yang dipublish dengan cepat itu akurat?

Sebagai contoh, berita-berita yang muncul ketika sedang terjadi bentrokan antara mahasiswa Universitas YAI yang melakukan demo kenaikan BBM dengan aparat polisi, akhir Maret lalu. Saat itu, beredar kabar bahwa ada korban meninggal akibat bentrokan. Banyak pengguna sosial media pun langsung menyoroti hal tersebut. Mereka mengecam bentrokan yang sedang terjadi dan memaki-maki aparat polisi yang terlibat. Suasana sosial media pun mungkin tak kalah panas dengan suasana di tempat kejadian tersebut. Namun, akhirnya pihak Universitas YAI melalui account twitter @StandUp_YAI mengklarifikasi bahwa memang ada korban tembak, namun berita adanya korban meninggal itu bohong. Beberapa media online lain pun kemudian menyatakan tidak menemukan korban meninggal hingga bentrokan berhasil diatasi.

Sampai saat ini saya sendiri belum mengetahui siapa yang sebenarnya menyebarkan berita bohong yang membuat keadaan saat itu semakin mencekam. Saya cari di mbah Google pun tidak ketemu. Hanya disebutkan kemungkinan awal penyebaran dilakukan di SMS kemudian ramai dibicarakan di sosial media. Namun beberapa pengguna sosial media menyebutkan bahwa ada portal news yang menginformasikan berita tersebut. Ya saya juga belum tahu pasti, kemungkinannya memang antara portal news atau pengguna social media (Citizen Journalism).

Siapapun penyebar berita bohong itu, kemungkinan-kemungkinan buruk dapat terjadi sebagai akibatnya. Tahu kan demo besar-besaran di Mesir itu diawali dari gerakan di media sosial? Ya, itu kemungkinan terburuknya. Mungkin jika tidak segera diklarifikasi bahwa berita kematian mahasiswa YAI itu bohong, akan ada gerakan dari pengguna sosial media yang akhirnya ikut memperbesar bentrokan yang sedang terjadi.

Intinya apa? Guys, sekali lagi intinya adalah kita harus cerdas, jangan langsung percaya terhadap suatu berita, khususnya yang mengandung unsur provokasi. Kita harus mengetahui kebenaran suatu berita sebelum kita mengambil sikap, apalagi untuk mengambil tindakan. Internet adalah rimba yang sangat luas dan bebas sehingga kita mudah tersesat.

Lalu bagaimana? Beberapa media massa konvensional telah membuka lapaknya di media online, ini adalah cara mereka mempertahankan eksistensi, dan mereka lah yang sebaiknya kita jadikan referensi (portal news). Setidaknya mereka sudah cukup kredibel dalam bidang jurnalisme. Jadi jika ada sebuah hoax atau berita provokasi, cari dulu referensi dari media online yang kredibel. Ingat, jangan langsung percaya! Biasanya jika mereka pun melakukan kesalahan dalam memberikan informasi, mereka akan melakukan klarifikasi, agar khalayak tetap percaya pada mereka.

Setiap Artikel Berita Mempunyai Sudut Pandang Berbeda, Kita Jangan Hanya Ikut-Ikutan!
Informasi sudah menjadi makanan sehari-hari kamu? Kalau iya, bagian ini pun tidak kalah penting untuk diketahui!

Guys, coba ingat! Berapa panjang sih artikel yang dimuat media massa? Jika kita pikir secara logis, apa satu lembar artikel cukup menjelaskan sebuah peristiwa yang telah atau sedang terjadi secara rinci? Apa mampu membuat orang mengerti dan memiliki persepsi yang sama?

Pada dasarnya berita dibuat dengan prinsip 5W + 1H. Ini adalah syarat wajib kelengkapan yang harus dipenuhi sebuah berita. Berita pun harus akurat, artinya harus sesuai dengan fakta yang ada dan tidak boleh mengada-ada, karena berita adalah representasi dari kenyataan. Tapi dari sudut pandang Ilmu Komunikasi, berita disebut sebagai konstruksi dari realitas, bukan refleksi realitas itu sendiri. Nah loh, kata-katanya mulai tinggi banget, hehehe

Gini guys, meskipun sebuah berita mengandung 5W + 1H (ngerti dong ini apaan!), tapi berita biasanya mengambil satu atau beberapa dari unsur tersebut yang ditonjolkan. Misalnya berita tentang gempa yang terjadi di Sumatera, hampir semua media memberikan informasi tentang berita tersebut. Tapi coba perhatikan! Suatu media bisa jadi membahas mengenai berapa kali gempa terjadi, berapa kekuatan gempa tersebut, serta apakah berpotensi tsunami. Sementara media lain menginformasikan berapa jumlah korban, bagaimana keadaan korban, dan sebagainya. Jadi, setiap media memiliki sudut pandang masing-masing dalam mempublish berita. Ini lah mengapa berita itu disebut sebagai konstruksi realitas. Karena berita dibuat melalui proses konstruksi: pemilihan kata, sumber, gambar, sudut pandang, dan sebagainya. Oleh karena itu, berita satu dengan lainnya memiliki nilai berbeda dan akan membentuk presepsi kita dengan berbeda pula.

Jadi apa? Kita harus membaca berita dengan tema yang sama di beberapa sumber agar kita lebih tahu secara rinci. Coba ingat-ingat! Pernah kah teman-teman membaca sepotong berita mengenai seseorang, kemudian jadi tidak suka dengan orang itu. Namun, setelah membaca tema berita yang sama tapi dengan penjelasan lebih lengkap, teman-teman jadi bersikap netral atau bahkan simpatik pada orang di berita tersebut. Pernah?
Contohnya terjadi di minggu lalu, yaitu minggu terakhir di bulan April 2012. Hayo... berita tentang siapa?

Yup! Berita tentang Justin Bieber yang menyebut Indonesia sebagai negeri antah-berantah dan Pak Boediono, Wakil Presiden RI, yang mempermasalahkan volume suara pengeras adzan. Siapa yang tahu berita ini tunjuk tangan...! Dua berita ini ramai diperbincangkan di media online. Reaksi negatif pun berdatangan di ruang tanggapan di bawah berita tersebut. Ya, sepertinya hanya fans berat Justin Bieber dan orang yang sangat menyadari kekurangan Indonesia saja yang bersikap membela atau netral, hehehe

Tapi coba teman-teman cari tahu lebih jauh, sebenarnya apa sih yang dikatakan Justin Bieber dalam bahasa Inggris itu, bagaimana suasana acara peluncuran albumnya saat itu, dan apa yang pembawa acaranya tanyakan padanya. Saya yakin teman-teman akan lebih mengerti dan dapat mengambil sikap yang tepat atas pemberitaan tersebut. Sayangnya, di situs Youtube yang memasang video pemberitaan tentang kata-kata Justin Bieber, saya membaca komentar orang Indonesia dengan bahasa Inggris yang kasar, balik menghina Justin Bieber. Padahal orang-orang dari negara lain membaca dan ikut berkomentar di situ, baik bersikap netral, membela sang idola, atau jadi berpikiran buruk terhadap orang Indonesia. Sayang sekali! Ini cerdas tidak?

Kembali ke tentang pemberitaan awal. Mengapa banyak orang yang terpancing emosi? Karena beberapa media online memberi judul artikel beritanya “Justin Bieber Sebut Indonesia Negara Antah Berantah”. Dari judul beritanya saja sudah waah... bukan! Ini konstruksi realitas lho! Media sudah menggiring khalayak menuju sebuah sikap. Hal yang sama pun terjadi pada pemberitaan Pak Budiono. Awalnya media online menulis judul artikel berita “Wapres Boediono Minta Pengeras Adzan Agar Diatur”. Tentu saja ini sangat sensitif karena berkaitan dengan persoalan agama. Kemudian media terus mempublish tanggapan negatif dari tokoh atau organisasi tertentu yang semakin memojokkan Pak Wapres. Dan coba deh cek, setelah itu muncul lah media online yang memuat teks pidato Pak Wapres itu sebenarnya. Isinya bukan Cuma tentang pengeras adzan, tapi himbauan baik lainnya.

Guys, karena setiap media punya tujuannya sendiri dan cara pandang tersendiri, makanya kita sebagai khalayak jangan mudah percaya dan harus cerdas. Media itu butuh khalayak, kalau beritanya tidak laku, ya bangkrut lah, oleh karena itu beritanya harus punya nilai (news value) agar mampu menarik perhatian. Apalagi, sekarang ini sudah menjadi rahasia umum kalau ada beberapa media yang identik dengan partai politik tertentu. Ssttt... hehe

Up-to-Date + Cerdas = Keren
Jadi sudah cukup mengerti dong pastinya kenapa kita harus cerdas sebagai khalayak? Sudah tahu juga kan harus cerdas yang bagaimana saja? Yup, jangan mudah terprovokasi terhadap hal-hal yang menimbulkan perpecahan. Kita ini negara yang sangat plural, sangat berbeda-beda, tapi harus ingat Bhinneka Tunggal Ika. Kemajuan teknologi membuat kita sangat mudah menjumpai orang-orang dari berbagai penjuru dunia. Dan itu artinya apa? Semuanya jadi bias. Segala macam kebudayaan, gaya hidup, bahasa, adat, dan lainnya dapat kita temui di internet. Jangan sampai budaya asli & nilai-nilai luhur yang kita punya menjadi hilang.

Setelah lulus SMK tahun 2010 saya memiliki akses internet yang lebih banyak, dari situ lah saya mulai mengamati media online (karena saya kuliah di bidang komunikasi juga). Berdasarkan pengamatan saya tersebut, masyarakat Indonesia sangat sensitif terhadap pemberitaan yang berkenaan dengan agama. Coba teman-teman cek sendiri, setiap ada berita seperti itu, contohnya tentang Pak Boediyono tadi, banyak orang memberikan komentarnya. Kata-kata dari semua komentar tersebut sangat tidak pantas dibaca. Mereka saling menghina agama lain dan membanggakan agama yang dipercayainya. Padahal katanya bangsa Indonesia itu bangsa yang sangat toleran. Hmmm...

Jadi guys, pergunakan teknologi yang selalu berkembang ini dengan sebaik-baiknya. Jangan sampai malah membuat perpecahan dan pertengkaran yang nantinya akan merugikan diri kita sendiri. Perlihatkan pada dunia bahwa Indonesia adalah negara dengan masyarakat yang santun dan bertoleransi tinggi, sejak dulu hingga saat ini.

Ingat ya! Selain harus melek teknologi dan informasi (up-to-date), kita juga harus cerdas lho.. Ambil lah nilai yang baik dari media online dan jangan mudah diprovokasi. Kalau sudah up-to-date dan cerdas artinya.. KEREEEENNNNN!!!!!
Ok, guys.. Semoga bermanfaat. Salam semangat slalu...

        Berbulan-bulan lamanya aku tinggalkan blog tercinta ini. Jangankan untuk posting tulisan, untuk mampir sekedar mengintip traffic dan komentar pun amat jarang kulakukan. L

But, I’ll try to back… and now I’m back.

       Malam ini tepat pukul 03.15.am di jam netbook-ku. Tidak dapat tidur, tidak ingin tidur, dan mencoba untuk menulis kembali. Aku rasa ini waktu yang tepat dan memang sudah seharusnya aku kembali ke pelukan blogku ini.

       Sibuk kuliah dan kerja. Itu alasan klasik yang sering hatiku katakan ketika teringat blog ini dan hal-hal penting lain dalam hidupku yang juga sudah mulai terlupakan. Senin – Jumat, aku menghabiskan waktu di kantor customer dan macetnya Jakarta. Sabtu – Minggu kupasrahkan hari tenangku untuk kuliah. That’s why I say I’m busy. Dua nama besar kegiatanku itu sangat menyita pikiran dan tenagaku. Tapi akhirnya aku sadar, ternyata aku hanya sedang tenggelam dalam samudera kemalasanku sendiri. How stupid I’m!


    Ya, memang pekerjaanku sangat melelahkan. Setiap hari kerja, aku harus melakukan perjalanan Tangerang-Jakarta-Tangerang. Apalagi setelah aku dan keluargaku tinggal di Sepatan Residence, rasanya tubuhku yang kurus kecil ini semakin kering. Halah L

    Namun di lelahnya perjalananku itu, actually I didn’t do a lot of work. Pekerjaanku sebagai Implementator memberikanku banyak waktu luang. Karena aku tidak harus mengerjakan banyak data-data seperti pekerjaanku di bagian finance sebelumnya. Jadi, aku benar-benar stupid deh!!!

      Setelah bekerja, aku memang agak sulit tidur malam. Rasa lelah akibat aktifitas harianku membuatku cepat kantuk. Setiap ada waktu di rumah pun selalu aku gunakan untuk istirahat, yang sama dengan tidur. Itu sebabnya, aku tidak dapat menulis. Tapi.. seharusnya aku masih dapat menulis di waktu luangku saat jam kerja, namun konsentrasiku sangat terganggu karena sudah pasti banyak gangguan alias pekerjaan mendadak. Apalagi ditambah tugas-tugas kuliah yang selalu bergelimangan di dalam hari-hariku (like this time). Huuft..

But, tonight we’re alright. Just hold up your light, let it shine (Bruno Mars)

      Tema lagu “Lighters”-nya Bruno Mars, yang tiba-tiba terngiang di kelapaku itu, memang sebenarnya tidak nyambung dengan apa yang aku tulis dini hari ini. Tapi, rasanya keinginanku untuk menulis kembali dan akhirnya tercapai ini ibarat lilin yang sudah lama kupegang, dan akhirnya berhasil aku nyalakan. So, let it shine. Biarkan keinginan menulis ini tetap menyinari hati dan pikiranku, jangan sampai redup dan menghilang lagi. Biarkan apa yang ada di pikiranku menjadi tulisan lagi. *Do’a*

      Mengulik ke-insyafan-ku untuk menulis lagi. Rasanya sampai detik ini aku memang kurang bersyukur. Jadi bukan cuma rasanya sih, emang iya. Beberapa hari ini aku aktif di twitter. Dari TL yang mampir ke berandaku, aku kembali diperlihatkan pencapaian orang-orang di sekitarku yang kini jauh di atasku. Aku kagum. Mereka kini sudah melakukan apa yang ingin dan harus mereka lakukan. Mereka sudah menjadikan pola-pola mimpi mereka menjadi sebuah rajutan yang indah. Dan aku, mungkin aku sudah jauh ketinggalan.
Saat ini aku sudah bekerja. Aku bahkan bekerja sebelum aku menerima surat kelulusan dari SMK. Ini prestasi tersendiri bagiku. Mulai dari hanya seorang freelancer, akhirnya posisiku naik menjadi karyawan meskipun hanya outsourcing. Banyak yang aku pelajari, apalagi dulu aku dipercaya untuk bekerja di bagian finance, padahal aku tidak ada basic di bidang itu. Selanjutnya, resign dari kantor pertama, aku mendapat pekerjaan yang lebih baik dengan penghasilan yang lebih baik pula. Ya, dengan apa yang telah aku dapatkan saat ini, aku melihat ke bawah. Aku bersyukur Tuhan memilihku untuk mendapatkan pekerjaan yang baik. Bahkan mungkin lebih baik dari sebagian lulusan S1 saat ini di Jakarta.

      Tapi ternyata aku lupa, aku lupa melihat ke atas untuk memacu semangatku agar berusaha lebih. Orang-orang penuh semangat itu sudah melanjutkan belajarnya ke Negara Adidaya, sudah action terhadap passion-nya, sudah menorehkan namanya di banyak tulisan dan media. Aku malah meninggalkan mimpi-mimpiku untuk meraih apa yang ingin aku raih. Dan bodohnya, aku menjadi pemalas. Honestly, I lost my spirit how bad!!

So, I try to back now. I chose to move on to a better life. I won’t stuck here. It’s my pray.. Amin yaa Allah..

Salam semangat selalu.. J

Tergelitik oleh sebuah komentar dari postingan saya di salah satu grup FB ekstrakulikuler – yang saya ikuti sewaktu SMK. Didukung oleh seruan “vote Komodo to be new 7 wonders of nature” yang sedang menjadi trend topic. Saya bersemangat untuk membuat tulisan ini.

Nasionalisme, ikut-ikutan, perdebatan, dan kebingungan, sepertinya kata-kata itu lah yang cukup mewakili apa yang sedang terjadi di negeri ini akibat adanya kontes N7W. Karena itu, saya sebagai blogger tergerak untuk ikut menyampaikan opini saya mengenai kondisi (baca: bukan masalah) ini. Tidak hanya karena ikut-ikutan, jauh dari itu saya – sebagai orang awam – berharap semua ini tidak berlarut menjadi permasalahan dan mencegat rasa nasionalisme yang sedang menggema.

         Bermula dari kontroversi keberadaan yayasan N7W dan besarnya biaya yang harus dikeluarkan peserta kontes, terutama untuk menjadi tuan rumah, banyak orang yang mulai bertanya-tanya serta ragu untuk berpartisipasi memenangkan Pulau Komodo sebagai salah satu dari 7 keajaiban dunia yang baru, meskipun telah ditegaskan di berbagai media bahwa kontes ini tidak memberikan predikat juara 1,2, atau 3 bagi para pesertanya. Pendapat-pendapat yang menonjolkan berbagai macam sudut pandang pun terus bergulir. Untuk itu, saya mencoba mencari tahu mengenai yayasan N7W. 

Dari sebuah sumber, dikatakan bahwa N7W Fondation secara resmi berdiri pada tahun 2001. Sebelumnya N7W adalah sebuah website yang diluncurkan oleh Bernard Weber pada tahun 1999. Kemudian pada tahun 2000, website ini membuka voting kepada seantero penghuni bumi untuk memperoleh New 7 Wonders of Nature yang pertama. Lalu diumumkan lah dengan tidak diperingkatkan, situs-situs yang menjadi N7W of Nature. Yaitu, The Great Wall, Machu Picchu, Petra, Taj Mahal, Colleseum, Chichen Itza, dan Patung Kristus Sang Penebus di Brazil. Melalui pencapaian pertama ini lah, yayasan N7W mendapatkan global media awareness.

           Inilah salah satu yang harus saya informasikan kepada teman-teman. Banyak orang bertanya, mengapa Indonesia harus mengikuti kontes ini? Taman Nasional Komodo sudah diakui sebagai The World Heritage oleh UNESCO pada tahun 1986 dan telah menjadi Cagar Biosfer sejak tahun 1997. Jadi mengapa harus heboh menjadikannya sebagai N7W of Nature? Ya memang ada benarnya, namun apakah bijak jika kita berpikir sesingkat itu? Tidak bagi saya.

Menjawab pertanyaan yang ditulis seorang teman blogger, “Apakah di dunia ini tidak ada tim independen yang ahli, cerdas dan profesional untuk menilai dan menentukan 7 keajaiban dunia sehingga penilaiannya tidak melibatkan cara polling SMS?” Saya setuju dengan pendapat Duta Besar Pulau Komodo, Pak Jusuf Kalla, N7W adalah kontes seperti Indonesian Idol. Jadi menurut saya, tidak bijak membandingkan yayasan N7W dengan UNESCO, karena sudah jelas keduanya sangat berbeda. UNESCO meratifikasi The World Heritage berdasarkan kesadaran akan pentingnya keikutsertaan dunia melestarikan tempat-tempat yang menakjubkan dan bernilai universal. Penilaian yang dilakukan UNESCO pun berbeda jauh dan lebih kompleks dibandingkan N7W yang mengandalkan voting. Mengapa? Karena dua lembaga ini memang memiliki latar belakang yang berbeda pula.

Jadi kenapa N7W menggunakan cara votting? Karena bentuk kegiatan atau kontes ini sebenarnya adalah sebuah kampanye dari tempat-tempat menakjubkan yang ada di dunia ini.

Positifnya, melalui N7W, kita dapat mengenalkan kepada warga dunia bahwa Indonesia memiliki wisata alam yang luar biasa menakjubkan. Bahkan sebelum jauh ke arah itu, melalui kampanye ini bangsa Indonesia sendiri pun dapat lebih mengenal kekayaan alam yang ada dan harus kita banggakan. Hal ini tentu saja demi menarik wisatawan dan meningkatkan perekonomian masyarakat sekitar Pulau Komodo dan NTT. Tertulis di Wikipedia, perekonomi di provinsi NTT lebih rendah daripada rata-rata Indonesia, dengan inflasi 15%, pengangguran 30%, dan tingkat suku bunga 22%-24%. Ditambah lagi masalah pendidikan dan kesehatan yang masih sangat rendah. Jadi apa ruginya Rp. 1,- dan mengapa harus diperdebatkan jika demi saudara-saudara kita yang terlupakan itu? Lagi pula, Indonesia pun pada akhirnya tidak mengeluarkan USD 10jt demi menjadi tuan rumah. Setidaknya pemerintah sudah bersikap bijak bukan?

Namun lebih jauh lagi, ada hal penting dan paling utama yang harus kita pikirkan demi menyiapkan diri (TN Komodo) akan kedatangan para wisatawan. Yup, kembali ke komentar seorang “abang” saya. Bagaimana jika pengunjung sudah ramai, sampah pun ikut ramai? Ekosistem menjadi rusak, komodo pun stress deh. Itu lah yang seharusnya kita ulas, kita cari ide, kemudian kita lakukan. Itu lah hal yang paling dan sangat penting. Bahkan teman blogger lain pun menulis, predikat warisan dunia yang sudah didapat beberapa tempat di Indonesia kini sudah tidak terdengar gaungnya, dibanding negara lain yang sangat mempertahankan predikat tersebut. Tentu dengan pelestariannya. 

Saya terkesan dengan bijaknya Pak Jusuf Kalla, yang dalam hal ini pula akan membuat abang saya sedikit membesarkan harapan mulianya – karena Duta Besar Pulau Komodo sendiri yang berbicara. Saya kutip dari republika, beliau berkata.

“Menang atau tidak nantinya, Pulau Komodo tetap harus berbenah dan menyiapkan diri untuk kedatangan para turis.”
“Tentu ke depannya kita buatkan kuota agar tidak semua bisa masuk ke sana (TN Komodo).”
“Kuota itu akan membuat batasan maksimal sekitar 300-500 orang. Untuk turis asing , biayanya harus lebih mahal agar masyarakat juga bisa menikmati.”

Dengan kata-katanya tersebut, republika menulis, JK meyakini sektor masyarakat NTT bisa berkembang tetapi habitat komodo juga tidak terganggu. Jangan lupa, pantai indah di sekita sana pun dapat dieksplorasi.

Ya, semoga dengan harapan serta keyakinan dari kita semua, pulau komodo akan selalu menjadi the wonders of nature. Bagaimana pun, yang paling penting adalah pelestarian serta konservasi terhadap komodo itu sendiri. So? Let’s vote for conservation and preservation of Komodo!!! Vote for naturalism!!! Bawa rasa nasionalisme yang sedang keras menggema ini ke arah yang lebih positif!!!
Salam semangat slalu.. ;-)

Welcome back!!!
Sambil mendengar sholawat sebelum subuh, hari ini aku ingin kembali sharing dengan teman-teman maya semua sekaligus mengisi keheningan blogku.. :D

New media.. Semua orang di seluruh dunia sedang dijejali istilah tersebut, terutama social media. Siapa yang tidak tahu? Orang yang awam terhadap komputer dan internet pun mungkin familiar dengan media yang kini sangat trend tersebut. Baik karena sering mendengar berita sana-sini. Bisa juga karena punya akun di twitter, facebook, atau friendster dulu. Atau mungkin karena memang social media addicted.

Banyak topik menarik yang dapat dibahas tentang social media. Mulai dari sisi positif sampai ke sisi negatif. Bisa tentang persahabatan, grup, fashion, toko oline, politik, dan lainnya. Banyak orang yang senang dan mendapat berkah dari media tersebut, atau ada juga pihak-pihak yang merasa rugi dan terancam. Kita tahu, ada kebaikan yang kita rasakan dari social media, namun di antara kita ada juga yang merasakan ketidakbaikan.

Berawal dari tugas yang diberikan oleh dosen Psikologi Komunikasi. Aku tergelitik untuk menggali tema social media, kemudian mengarahkan fokusku pada gerakan sosial yang mampu dibangkitkan olehnya. Terinspirasi oleh ramainya gedung KPK yang setiap hari didatangi para demonstran dan gejolak yang terjadi di negara-negara Timur Tengah.

Media sosial telah menjadi fenomena. Ia menorehkan banyak catatan di buku hidup banyak orang, bahkan beberapa negara. Hal ini memang tentu saja tidak terlepas dari manifestasi akan kebutuhan manusia pada aktualisasi diri dan kebutuhan terhadap media massa. Koin prita misalnya. Dengan begitu hebat, media social mampu menggerakkan hati banyak orang untuk membantu Prita Mulyasari, seseorang yang didenda karena milisnya yang mengeluhkan pelayanan sebuah rumah sakit di kotaku. Atau kasus petinggi KPK, yang membuat seantero bangsa simpati, padahal banyak dari mereka yang tidak tahu kebenaran kasus tersebut, bahkan mungkin tidak mengerti sama sekali. Semua itu terjadi di dunia maya, namun mempengaruhi banyak orang dengan begitu dahsyatnya, bahkan menggiring ke langkah nyata, sehingga muncul lah gerakan sosial. Oleh sebab itu, aku mencoba untuk menggali serta mengkaji mengapa dan bagaimana social media mampu menghasilkan semua itu.

Kajian social media ini kubuat dari sudut pandang psikologi, komunikasi, dan menyentuh hal-hal sosial. Berdasarkan pengamatan, pengumpulan data, dan pengalamanku sendiri. Selamat men-download dan membaca. Semoga bermanfaat. Salam semangat selalu.;)

Know us

Our Team

Contact us

Name

Email *

Message *