Vote For Conservation of Komodo!!!

Tergelitik oleh sebuah komentar dari postingan saya di salah satu grup FB ekstrakulikuler – yang saya ikuti sewaktu SMK. Didukung oleh seruan “vote Komodo to be new 7 wonders of nature” yang sedang menjadi trend topic. Saya bersemangat untuk membuat tulisan ini.

Nasionalisme, ikut-ikutan, perdebatan, dan kebingungan, sepertinya kata-kata itu lah yang cukup mewakili apa yang sedang terjadi di negeri ini akibat adanya kontes N7W. Karena itu, saya sebagai blogger tergerak untuk ikut menyampaikan opini saya mengenai kondisi (baca: bukan masalah) ini. Tidak hanya karena ikut-ikutan, jauh dari itu saya – sebagai orang awam – berharap semua ini tidak berlarut menjadi permasalahan dan mencegat rasa nasionalisme yang sedang menggema.

         Bermula dari kontroversi keberadaan yayasan N7W dan besarnya biaya yang harus dikeluarkan peserta kontes, terutama untuk menjadi tuan rumah, banyak orang yang mulai bertanya-tanya serta ragu untuk berpartisipasi memenangkan Pulau Komodo sebagai salah satu dari 7 keajaiban dunia yang baru, meskipun telah ditegaskan di berbagai media bahwa kontes ini tidak memberikan predikat juara 1,2, atau 3 bagi para pesertanya. Pendapat-pendapat yang menonjolkan berbagai macam sudut pandang pun terus bergulir. Untuk itu, saya mencoba mencari tahu mengenai yayasan N7W. 

Dari sebuah sumber, dikatakan bahwa N7W Fondation secara resmi berdiri pada tahun 2001. Sebelumnya N7W adalah sebuah website yang diluncurkan oleh Bernard Weber pada tahun 1999. Kemudian pada tahun 2000, website ini membuka voting kepada seantero penghuni bumi untuk memperoleh New 7 Wonders of Nature yang pertama. Lalu diumumkan lah dengan tidak diperingkatkan, situs-situs yang menjadi N7W of Nature. Yaitu, The Great Wall, Machu Picchu, Petra, Taj Mahal, Colleseum, Chichen Itza, dan Patung Kristus Sang Penebus di Brazil. Melalui pencapaian pertama ini lah, yayasan N7W mendapatkan global media awareness.

           Inilah salah satu yang harus saya informasikan kepada teman-teman. Banyak orang bertanya, mengapa Indonesia harus mengikuti kontes ini? Taman Nasional Komodo sudah diakui sebagai The World Heritage oleh UNESCO pada tahun 1986 dan telah menjadi Cagar Biosfer sejak tahun 1997. Jadi mengapa harus heboh menjadikannya sebagai N7W of Nature? Ya memang ada benarnya, namun apakah bijak jika kita berpikir sesingkat itu? Tidak bagi saya.

Menjawab pertanyaan yang ditulis seorang teman blogger, “Apakah di dunia ini tidak ada tim independen yang ahli, cerdas dan profesional untuk menilai dan menentukan 7 keajaiban dunia sehingga penilaiannya tidak melibatkan cara polling SMS?” Saya setuju dengan pendapat Duta Besar Pulau Komodo, Pak Jusuf Kalla, N7W adalah kontes seperti Indonesian Idol. Jadi menurut saya, tidak bijak membandingkan yayasan N7W dengan UNESCO, karena sudah jelas keduanya sangat berbeda. UNESCO meratifikasi The World Heritage berdasarkan kesadaran akan pentingnya keikutsertaan dunia melestarikan tempat-tempat yang menakjubkan dan bernilai universal. Penilaian yang dilakukan UNESCO pun berbeda jauh dan lebih kompleks dibandingkan N7W yang mengandalkan voting. Mengapa? Karena dua lembaga ini memang memiliki latar belakang yang berbeda pula.

Jadi kenapa N7W menggunakan cara votting? Karena bentuk kegiatan atau kontes ini sebenarnya adalah sebuah kampanye dari tempat-tempat menakjubkan yang ada di dunia ini.

Positifnya, melalui N7W, kita dapat mengenalkan kepada warga dunia bahwa Indonesia memiliki wisata alam yang luar biasa menakjubkan. Bahkan sebelum jauh ke arah itu, melalui kampanye ini bangsa Indonesia sendiri pun dapat lebih mengenal kekayaan alam yang ada dan harus kita banggakan. Hal ini tentu saja demi menarik wisatawan dan meningkatkan perekonomian masyarakat sekitar Pulau Komodo dan NTT. Tertulis di Wikipedia, perekonomi di provinsi NTT lebih rendah daripada rata-rata Indonesia, dengan inflasi 15%, pengangguran 30%, dan tingkat suku bunga 22%-24%. Ditambah lagi masalah pendidikan dan kesehatan yang masih sangat rendah. Jadi apa ruginya Rp. 1,- dan mengapa harus diperdebatkan jika demi saudara-saudara kita yang terlupakan itu? Lagi pula, Indonesia pun pada akhirnya tidak mengeluarkan USD 10jt demi menjadi tuan rumah. Setidaknya pemerintah sudah bersikap bijak bukan?

Namun lebih jauh lagi, ada hal penting dan paling utama yang harus kita pikirkan demi menyiapkan diri (TN Komodo) akan kedatangan para wisatawan. Yup, kembali ke komentar seorang “abang” saya. Bagaimana jika pengunjung sudah ramai, sampah pun ikut ramai? Ekosistem menjadi rusak, komodo pun stress deh. Itu lah yang seharusnya kita ulas, kita cari ide, kemudian kita lakukan. Itu lah hal yang paling dan sangat penting. Bahkan teman blogger lain pun menulis, predikat warisan dunia yang sudah didapat beberapa tempat di Indonesia kini sudah tidak terdengar gaungnya, dibanding negara lain yang sangat mempertahankan predikat tersebut. Tentu dengan pelestariannya. 

Saya terkesan dengan bijaknya Pak Jusuf Kalla, yang dalam hal ini pula akan membuat abang saya sedikit membesarkan harapan mulianya – karena Duta Besar Pulau Komodo sendiri yang berbicara. Saya kutip dari republika, beliau berkata.

“Menang atau tidak nantinya, Pulau Komodo tetap harus berbenah dan menyiapkan diri untuk kedatangan para turis.”
“Tentu ke depannya kita buatkan kuota agar tidak semua bisa masuk ke sana (TN Komodo).”
“Kuota itu akan membuat batasan maksimal sekitar 300-500 orang. Untuk turis asing , biayanya harus lebih mahal agar masyarakat juga bisa menikmati.”

Dengan kata-katanya tersebut, republika menulis, JK meyakini sektor masyarakat NTT bisa berkembang tetapi habitat komodo juga tidak terganggu. Jangan lupa, pantai indah di sekita sana pun dapat dieksplorasi.

Ya, semoga dengan harapan serta keyakinan dari kita semua, pulau komodo akan selalu menjadi the wonders of nature. Bagaimana pun, yang paling penting adalah pelestarian serta konservasi terhadap komodo itu sendiri. So? Let’s vote for conservation and preservation of Komodo!!! Vote for naturalism!!! Bawa rasa nasionalisme yang sedang keras menggema ini ke arah yang lebih positif!!!
Salam semangat slalu.. ;-)

No comments:

Post a Comment

Silahkan sampaikan tanggapan, opini, saran ataupun kritik Anda sebelum meninggalkan blog ini...

Know us

Our Team

Contact us

Name

Email *

Message *